Add Me as A Friend in Facebook!

Sabtu, 05 Februari 2011

Suffering and 'Me'

Kita semua ingin menghindari penderitaan...
Namun penderitaan di dunia ini tak terelakkan

Ini disebut dukkha dalam konsep Buddha
Dikatakan Veda hasil karma dari sang jiva
Dan oleh agama samawi inilah takdir Allah

Setiap mahluk pasti akan mengalami ini
Manusia dipastikan sakit, menua, dan mati
Segala keinginan belum tentu akan terpenuhi
Semua akan musnah termasuk yang dicintai..

Inilah penderitaan yang tak terhindarkan...

Bagaimana kita menyikapi derita ini?

Kita bisa saja bersedih dan mengutuk diri,
Atau menjadikannya sebagai sarana evolusi

Kita bisa coba lawan dan menolak derita
Atau menerima dan membuatnya tangga

Transmutasi terjadi ketika kita menyadari
Bahwa hidup adalah ujian bagi ego pribadi
Ego yang perlu dibakar habis hingga binasa
Kesadaran bisa berevolusi karena ada derita

Api penderitaan seolah cahaya penerang
Bagi kesadaran yang mendamba pencerahan

Akan tetapi...

Penderitaan memang ada, ia nyata
Namun, siapakah yang menderita?

Ada kejadian, ada sebab, ada perbuatan..
Pertanyaannya adalah; siapa yang berbuat?
Ada pikiran inti diri yang merasa melakukan
Rasa tanggung jawab karena membawa akibat

Tapi, mesti disadari: inti diri adalah ilusi
Segala aksi dan reaksi tidak murni oleh diri

Wahai diri, adakah engkau energi yang murni?
Benar-benar pilihan bebas, kehendak pribadi?

Ternyata faktanya; segalanya diluar kendali
Kendali, kontrol, inti diri pribadi; hanya ilusi

Cobalah bermeditasi dan cermati pikiran
Ia muncul, timbul, tenggelam secara alami
Begitu saja hadir seperti mimpi tak disadari
Awalnya ada begitu saja maka tidak bisa diakui

Diri ini tak terlepas dari lingkungannya
Pengaruh sekitar, orang tua dan ajarannya
Kita tidak bisa memilih dimana tempat lahirnya
Tak bisa mengatur bagaimana genetika tercipta

Lalu, manakah karakter yang benar-benar asli?

Kita semua hasil aksi-reaksi, sebab-akibat
Setiap tindakan dari karakter yang melekat

Adalah karakter yang tak terbebas dari takdir
Kelahiran, orang tua, gen, dan lingkungan sekitar

Semua telah ditentukan,
Segalanya bisa diperhitungkan...

Determinisme sudah dibuktikan oleh sains
Suratan takdir telah tertulis dan diketahui-Nya
Tuhan dinyatakan sebagai awalan dan akhiran
Semesta bisa diformulasikan termasuk manusia

Tidak ada kehendak bebas; tiada roh/jiwa
Tidak ada agen independen dalam individu
Tiada inti diri; hanyalah keberadaan kita
Tanpa perlu menyalahkan, iri, benci, malu

Bahkan kita tak bisa sombong meski berhasil
Oleh karena, segalanya adalah kehendak ilahi
Pengakuan, rasa hormat ialah keinginan kerdil
Pencapaian apapun adalah kejadian yang alami

Dengan memahami tiadanya inti diri ini,
Kita akan bisa semakin mudah mencintai
Berempati pada yang bernasib tak tinggi
Mampu memaafkan mereka yang menyakiti
Tak lagi memandang para priyayi dengan iri

Seluruhnya hanya merupakan peristiwa
Sesuai kehendak Yang Maha Kuasa
Sungguh damai hati ini rasanya
Sekarang pasrah menerima:

Penderitaan memang ada,
Tapi tiada 'aku' yang menderita!!!

Rabu, 26 Januari 2011

Wanna Be My Friend?

Di tengah keramaian
Aku malah kesepian...

Di kala sendirian,
Aku bisa ramai dengan pikiran
Lalu dalam diam, kuraih ketenangan

Kini, banyak hal telah kuketahui,
Namun lebih banyak yang tak dimengerti

Semakin ku belajar, semakin ku malu
Tak lagi ku menyela dan membantah-Mu

Ternyata kebijaksanaan bertambah
Bersama hati yang terbuka dan ramah

Jangan ada lagi penghakiman
Tak perlu juga membuat penilaian

Marilah kita berjalan beriringan
Bersama-sama bergandeng tangan
Melangkah pasti hilangkan perbedaan
Saling mendukung dan berikan dorongan
Sampai suatu hari nanti kita sampai di tujuan

Dimana di dalam perjalanan kehidupan
Akan lebih bermakna dengan persahabatan

Kini aku telah memahami
Maka aku berjanji dalam sunyi
'Tuk terus senyum dan berupaya mengerti
Tak kan ku khianati karna diri-Mu amat berarti

Maukah kamu memaafkan ku?
Dan bolehkan aku jadi teman Mu..

Selasa, 18 Januari 2011

Synchronicity: Coincidences & The Meaning of Life (Non-Dualism)

Manusia hidup mencari pola-pola
Manata keteraturan dari keteracakan
Dunia ini pun hadir dalam kebetulan...
Yang sinkron di luasnya alam semesta

Dan lalu kita pun bertanya:
Apa makna dari segalanya yang ada?

Kita pun mencari arti,
Dari kebetulan-kebetulan yang terjadi
Memberikan kesejatian pada sang diri

Cobalah kita amati dengan hati-hati
Adakah kebetulan menjadi petunjuk pasti
Akan hadirnya suatu kesadaran yang tertinggi

Kesadaran yang lebih adikuasa
Dari sekedar kekuatan manusia biasa

Bahwa pada akhirnya
Kita semua menjadi terjaga
Dari dunia mimpi yang tercipta
Selama kita hidup dari masa ke masa

Lalu kita sadari bahwa kita adalah satu...

Senin, 03 Januari 2011

New Year's Resolution

Think deeply. Talk slowly. Listen carefully. Love sincerely.

Sabtu, 01 Januari 2011

Life Is An Adventure

Pada suatu pagi
Ku menonton tivi

Ada pariwara Yang berkata:

"Life is an adventure"

And I suddenly remember
The words of Hellen Keller

Kehidupan adalah petualangan seru
Atau begitu saja hanya lewat berlalu

Realita yang kita pahami
Hanya reaksi dari persepsi

Tragedi bisa jadi komedi
Duka dan suka silih berganti

Semua tergantung interpretasi
Pikiran, kelima inderawi dan emosi
Segalanya bisa dilihat dari beberapa sisi

Banyaklah bersyukur, daripada mengeluh
Tak perlu ragu, siap bertindak dan berpeluh

Jangan takut melakukan kesalahan
Karena justru memperkaya kehidupan

Bersabar menghadapi penderitaan
Tetap eling walau dalam kesenangan

Anakku yang tercinta,
Hiduplah dengan gembira

Jangan sia-siakan usia
Teruslah berani mencoba
Serta seringlah mencinta

Karena cinta adalah rahasia
Dari hidup yang berbahagia!!!

Rabu, 22 Desember 2010

A Man Had Been Truly Happy When He Had Been The Lover Rather Than Beloved

Apakah yang paling kita inginkan?
Uang yang banyak?
Rumah mewah?
Pesawat Jet?

Dan jika kita sudah mendapatkan itu semua, apalagi yang mungkin kita inginkan?

Kesehatan, hubungan yang harmonis, keluarga?

Setelah kita memiliki segalanya;
Apalagi yang mungkin masih kita inginkan?

Jawabannya: ketenangan...

Kita menginginkan ketenangan, kepuasan hati
Agar kita, pada akhirnya, bisa berbahagia!

Lagipula, keinginan itu tiada akhirnya
Kita selalu menginginkan lebih dan lebih
Lebih baik kita mendapatkan kecukupan itu
Perasaan berkecukupan, kepuasan, ketenangan,

Kebahagaiaan...

Berbahagia, sekarang juga!
Pertanyaannya; bagaimanakah itu?

Kapankah yang kita ingat, waktu berbahagia?
Saat mencapai sesuatu, prestasi, kesuksesan?
Atau saat merasakan kala kita dicintai, disayang?

Ternyata jawabannya bukan itu, sebaliknya;
Kita merasa berbahagia; saat kita jatuh cinta!
Kita menjadi sangat bahagia ketika kita mencintai

Inilah solusi spiritual dari problema eksistensial.

Berada pada kesadaran jiwa yang mencinta
Dan melepaskan segala perasaan bukan cinta
Transformasikan semua perasaan menjadi cinta
Bahkan ajari kebencian untuk menjadi rasa cinta

Cintai bayi, cintai diri, cintai bumi, cintai hari
Sepanjang waktu, belajar mencintai semua ini
Biarkanlah segalanya berdaya cinta yang alami

Memasrahkan dan menerima, kalau kita adalah:

Sang Pencinta!!!

Rabu, 01 Desember 2010

Absurdisme: How To Be Happy -anytime&anywhere

Dalam mitologi Yunani; Sisyphus adalah seorang raja yang dihukum di neraka karena menipu kematian. Dia dihukum di neraka oleh para dewa dengan cara mendorong batu besar ke atas gunung yang mana batu tersebut setelah di puncak akan kembali jatuh ke bawah dan Sisyphus harus mendorongnya lagi ke atas, begitu seterusnya -selamanya. Siksaan yang sungguh mengerikan.

Filsuf Albert Camus menuliskan kembali Miitologi Sisyphus dan mengatakan bahwa kita bisa membayangkan bahwa Sisyphus bisa berbahagia dalam siksaannya. Sisyphus, seseorang yang tersiksa selama-lamanya di neraka dan tak bisa kemana-mana kecuali mendorong batu besar ke puncak gunung, ternyata bisa berbahagia.

Kita bisa merefleksikan diri kita, para pekerja di jaman modern ini, sebagai Sisyphus. Kita bekerja sampai sore, lalu pulang beristirahat bagai Sisyphus yang menuruni gunung seiring kejatuhan batunya, dan kembali bekerja lagi keesokan hari seperti Sisyphus yang kembali mendorong batu ke atas puncak. Dengan analogi ini, bisakah kita juga berbahagia dalam keseharian kita?

Albert Camus menggambarkan sesosok manusia absurd yang bisa berbahagia dimanapun dan kapanpun selama dia hidup di dunia ini. Absurdisme adalah filsafatnya yang menjawab adakah manusia menemukan makna hidupnya di dunia ini? Dan yang absurd adalah keinginan mendasar dari manusia yang mendapatkan arti dari kehidupan di alam ini namun semesta tidak bisa memberikan jawaban yang mutlak. Maka manusia absurd adalah manusia yang menerima keabsurd-an/absurditas ini dengan ikhlas. Penerimaan ini akan membebaskannya, dan bisa bahagia disini dan saat ini juga.

Manusia absurd akan melihat bahwa dirinya amat sangat kecil dan hampir-hampir hilang di dalam hamparan galaksi-galaksi yang sangat luas. Bumi yang sangat luas ternyata hanyalah planet kecil yang bagaikan debu di antariksa yang amatlah besar. Di alam semesta yang tiada terkira ini, segala masalah menjadi sangat tidak penting. Manusia absurd tidak akan pernah memusingkan suatu masalah atau apapun, karena segala urusannya tidak ada yang penting bagi alam semesta ini, dan bebaslah dia dari kecemasan.

Manusia absurd menyadari bahwa yang pasti di dunia ini adalah kematian. Dia mengetahui bahwa segala peradaban akan musnah, semua yang berawal akan berakhir, dan tiada yang abadi. Pada akhirnya, segalanya tiada yang penting dan semuanya tidak akan ada artinya lagi. Manusia absurd akan menjalani kehidupannya dengan perasaan penuh syukur karena dia masih hidup dan bisa menikmati kehidupan. Manusia absurd akan menjalani hari dengan gembira, menyantap makanannya dengan lezatnya seakan-akan itu makanan terakhirnya, dan memang bisa jadi. Dia akan menghargai kehidupan dan menghormati sesama, kita semua bisa berpisah kapan saja karena kematian pasti datang tak diketahui pasti. Manusia absurd semaksimal mungkin bersenang-senang dan membuang jauh-jauh kekhawatiran.

Dengan segalanya yang hanya sementara, tiada artinya, dan pasti musnah; manusia absurd tidak mau melekat pada apapun. Segalanya baginya hanyalah ilusi, tiada yang penting, bermakna, dan semuanya sama saja. Melewati segala masa; susah dan senang, manusia absurd akan tetap tenang. Kedamaian akan merekah karena dia bisa melihat semuanya seperti apa adanya, tanpa perlu dilabeli apa-apa dan tiada usah diberi arti apapun. Manusia absurd berbahagia dengan apapun yang dimilikinya tanpa terikat pada apapun, karena apapun pasti kan binasa.

Tanpa kemelekatan, kita tak akan merana. Berbahagia kapanpun dan dimanapun kita berada. Bebas bermain dan merayakan kehidupan yang sementara namun patut kita syukuri ini. Kebahagiaan ada di tangan kita sendiri, tidak tergantung dari luar, dari apapun yang kita punya, atau siapapun yang kita miliki, karena semuanya tidak ada yang abadi, tidak ada yang penting, tidak ada yang berarti. Kebahagiaan ada di dalam diri, berasal dari ketenangan kita, ketidakmelekatan, kebebasan dari segalanya, penerimaan yang ikhlas akan yang absurd...

Bebas berbahagia, sekarang dan disini, kapanpun dan dimanapun juga...